Header ads

Header ads
» » Andalah Sebenarnya Penghancur Olahraga Sumbar!


Oleh : Fazril Ale

Fazril Ale
Jujur, tulisan ini dibuat karena saya sudah tidak tahan lagi melihat dan membaca berbagai komentar miring baik di media sosial maupun di beberapa koran lokal. Pasalnya, semua penulis yang telah membuat tulisan miring tentang KONI Sumbar itu, justru adalah mereka yang sangat saya kenal dan beberapa di antaranya bahkan pernah bersama-sama jadi pengurus KONI Sumbar. Satu hal yang ingin saya garis bawahi di awal tulisan ini adalah bahwa Anda-andalah sebenarnya yang menjadi penghancur olahraga Sumbar, meski katanya Anda adalah orang yang peduli dengan nasib olahraga Sumbar.

Kenapa saya katakan begitu? Sederhana saja. Kalau memang Anda adalah orang yang peduli dengan nasib olahraga Sumbar, harusnya Anda tak perlu menulis sesuatu yang sebenarnya belum terlalu fatal dan menjadikannya seakan-akan pengurus KONI Sumbar saat ini telah melakukan kesalahan yang sangat merugikan sekali bagi olahraga Sumbar. Bahkan opini yang dibangun, sepertinya ingin pengurus KONI Sumbar saat ini di-Musdalub-kan. Meski awalnya saya sempat ketawa sinis membaca opini mereka, tapi karena sudah terlalu kelewatan, rasanya sebagai salah satu Wakil Ketua Umum KONI Sumbar periode 2017-2021 ini, saya juga sudah harus membuat klarifikasi dengan membuat tulisan ini.

Setidaknya ada dua topik yang diangkat para “penghancur olahraga Sumbar” itu akhir-akhir ini. Satu, soal Sekum KONI Sumbar Hendra Dupa mundur dari jabatannya. Satu lagi soal Sumbar tidak terdaftar sebagai Calon Tuan Rumah PON 2024. Soal Hendra Dupa mundur dituduhkan bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan Hendra baik dengan Ketum KONI Sumbar Syaiful, SH maupun dengan pengurus lain. Sedang masalah tuan rumah PON 2024, dikatakan KONI Sumbar telah melakukan pembohongan publik. Alasannya Ketum KONI Sumbar menyebutkan Sumbar masih bakal calon tuan rumah PON, sementara kenyataannya, hanya lima daerah (tiga calon tuan rumah) yang diverrifikasi Tim KONI Pusat untuk jadi tuan rumah.

Mari saya jelaskan satu persatu. Soal Hendra Dupa mundur, rasanya tak ada yang aneh. Tiga atau empat bulan lalu Hendra Dupa sebenarnya juga sudah minta mundur kepada Ketum KONI Sumbar. Namun permintaan Hendra di sekitar bulan Desember 2017 itu ditunda Ketum KONI Sumbar karena saat itu juga ada revisi kepengurusan KONI Sumbar, akibat sejumlah ASN dan Polri tidak diperbolehkan jadi pengurus KONI Sumbar. Tapi karena memang kesibukannya yang luar biasa, baik di pekerjaan pribadinya maupun sebagai Sekretaris di beberapa organisasi olahraga lain, Hendra akhirnya kembali mengundurkan diri melalui surat resmi. Lalu apa yang salah  dengan pengunduran diri Saudaraku Hendra Dupa? Tidak ada. Hubungan Hendra Dupa dengan Ketum KONI Sumbar maupun dengan semua pengurus lain juga tetap baik dan tidak ada masalah.

Lalu ketika ada yang menulis bahwa hal ini perlu diusut karena diduga ada hubungan yang tidak bagus antara Hendra dengan Ketum atau pun pengurus KONI Sumbar, saya spontan berkata, “Ini orang ngomong pakai mulut atau pakai apa?”

Lalu soal pencalonan Sumbar sebagai tuan rumah PON yang kini terus ditulis dan digiring jadi wacana seakan-akan pengurus KONI Sumbar tidak becus, melakukan pembohongan publik dan lain sebagainya. Saya justru mengatakan, justru mereka yang menulis hal inilah yang telah melakukan pembohongan publik. Sebab kalau dikatakan pengurus KONI Sumbar melakukan pembohongan publik, lalu pembohongannya yang mana?

Perlu saya jelaskan sejak akhir November 2017, KONI Sumbar telah mengajukan permohonan kepada KONI Pusat untuk jadi tuan rumah PON 2024. Karena persyaratan administrasi KONI Sumbar masih dianggap kurang, maka di sekitar bulan Januari 2018, bahan-bahan administrasi yang kurang itu dilengkapi. Bapak Ali Musri salah satu Wakil Ketua Umum KONI Sumbar yang ditunjuk jadi Ketua Tim Bidding PON dari KONI Sumbar bersama Ketua Umum Syaiful dan salah satu Kabid di Dispora Sumbar Sdr. Rasydi Sumetri secara resmi mengantarkan bahan-bahan dimaksud ke KONI Pusat dan diterima Bapak Suwarno, salah satu Wakil Ketua KONI Pusat, bersama sejumlah pengurus lain. Bahan-bahan dimaksud termasuk di antaranya surat resmi dari Bapak Gubernur Sumbar, yang salah satunya menyebutkan bahwa untuk persyaratan uang pendaftaran sebesar Rp 1 Milyar, diharapkan bisa dibayarkan setelah pengesahan APBD Perubahan tahun 2018.

Nah, belum disetorkannya uang Rp 1 Milyar itulah mungkin yang menjadi penyebab kenapa Sumbar sampaikan sekarang ini belum juga diverifikasi oleh Tim Bidding PON KONI Pusat. Karena menurut informasinya, memang uang itulah yang akan menjadi biaya Tim Bidding KONI Pusat untuk melakukan verifikasi ke daerah yang menjadi calon tuan rumah PON. Bahwa Ketum KONI Sumbar sampai sekarang masih mengatakan Sumbar masih bakal calon tuan rumah PON juga tidak salah. Hal itu karena sampai sekarang ini belum ada sepucuk surat pun dari KONI Pusat yang menyatakan Sumbar telah batal menjadi calon tuan rumah.

Dari apa yang saya ceritakan di atas, lalu pembohongan publik apa yang dilakukan KONI Sumbar sebagaimana yang dituduhkan para penghancur olahraga Sumbar itu? Inilah yang perlu saya jelaskan kepada masyarakat dan semua pemangku kepentingan di daerah. Lalu, siapa sebenarnya yang melakukan pembohongan publik?

Dendam Pribadi Karena Gagal jadi Pengurus

Ada juga sisi lain yang mungkin ingin saya sampaikan pada tulisan ini. Yakni soal beberapa di antara penulis yang saya katakan sebagai penghancur olahraga Sumbar itu. Bisa saya simpulkan keluarnya tulisan yang sengaja dibuat untuk menghancurkan KONI Sumbar itu latar belakangnya adalah dendam pribadi kepada Ketum KONI Sumbar Syaiful, SH. Soalnya Saudaraku Syaiful SH menolak mereka-mereka itu jadi pengurus KONI Sumbar periode 2017-2021.

Asumsi saya, tidak berkenannya Saudara Syaiful memasukkan mereka ke dalam pengurus KONI Sumbar saat ini, pastilah karena Saudara Syaiful sudah sangat tahu dengan kualitas kinerja mereka-mereka yang ditolak jadi pengurus itu. Soalnya, beberapa di antaranya sudah pernah bersama Saudara Syaiful – termasuk bersama saya juga - menjadi pengurus KONI di periode sebelumnya. Lalu beberapa yang lain juga sudah sangat diketahui Saudara Syaiful kualitas pribadinya. Intinya, percuma memasukkan mereka jadi pengurus.

Saya ingat, di tahun 2013 lalu, Sumbar telah membuat semacam kesepakatan bersama untuk jadi tuan rumah PON. Kesepakatan itu ditanda-tangani Bapak Gubernur Irwan Prayitno, Ketua DPRD Sumbar saat itu Yultekhnil, Bupati Walikota se Sumbar serta semua Ketua KONI Kota Kabupaten se Sumbar. Kesepakatan itu juga menjelaskan tentang tugas dan tanggungjawab masing-masing kabupaten kota membangun venue olahraga yang diperlukan untuk mendukung Sumbar jadi tuan rumah PON. Sebagai orang yang ikut menjadi pengurus KONI Sumbar saat itu, saya ikut bangga dan sangat mendukung usaha ke arah Sumbar menjadi tuan rumah PON itu.

Tapi apa yang terjadi? Di tahun 2014 saat ada bidding PON dilakukan, namun KONI Sumbar tidak ada mendaftar jadi tuan rumah PON. Artinya saat mana kesepakatan tahun 2013 itu masih hangat-hangatnya, justru Sumbar tidak pernah mendaftar jadi tuan rumah PON. Ya, meski saat ini kita tahu bahwa bidding PON XX itu akhirnya dimenangkan Papua, namun justru Sumbar jangankan ikut bidding, mendaftar saja pun tidak.

Jika ingin dibandingkan, perlu dijelaskan bahwa mendaftarnya Sumbar ikut bidding PON tahun ini, sebenarnya bukanlah sesuatu yang direncanakan. Dalam semua keputusan hasil Musyorprov KONI Sumbar tahun 2016 pun tidak ada poin yang menyebutkan Sumbar harus mendaftar jadi tuan rumah. Lalu mengapa Sumbar tetap mendaftar, meski tak ada diamanatkan dalam hasil Musyorprov? Itu tak lain karena Saudara Syaiful Ketua Umum KONI Sumbar saat ini merasa berkewajiban untuk tetap memperjuangkan aspirasi lama masyarakat olahraga Sumbar agar bisa jadi tuan rumah PON. Catat pula, itu pun dengan catatan kepengurusan yang dipimpinnya baru berjalan 11 bulan, dimana pengurus sekarang dilantik Januari 2017, sedang November 2017 sudah langsung ikut mendaftar.

Lalu apa hubungannya dengan para penulis penghancur olahraga Sumbar yang saya sebut tadi? Perlu diketahui, di saat kesepakatan bersama tahun 2013 itu dibuat, beberapa di antara mereka adalah pengurus KONI Sumbar baik di bidang media promosi (Humas) maupun di bidang lain. Kalau memang mereka peduli, kenapa saat itu mereka diam saja tanpa sedikit pun menulis tentang kenapa Sumbar tidak mendaftar ikut bidding PON? Apa mereka malu menulis tentang kekurangan mereka sendiri, yang hanya datang ke KONI ketika mengambil honor saja, sementara di hari-hari lain, mereka justru jarang datang ke KONI? Kalau memang mereka wartawan yang peduli, harusnya mereka kan menulis dan menjelaskan kepada masyarakat kenapa Sumbar tidak mendaftar ikut bidding PON, meski sudah ada kesepakatan tahun 2013.

Inilah sebenarnya yang menjadi inti dari tulisan saya. Bahwa hampir semua yang menulis miring tentang pencalonan Sumbar jadi tuan rumah PON itu pada dasarnya adalah mereka yang hanya sok peduli dengan olahraga Sumbar. Sementara sok peduli mereka itu hanya didukung rasa tidak suka kepada Ketum KONI Sumbar Syaiful yang tidak mau mengambil mereka jadi pengurus.

Perlu juga saya tambahkan, bahwa untuk bisa menjadi tuan rumah PON, bukanlah pekerjaan gampang yang bisa dilakukan hanya dengan sim salabim. Dari catatan yang ada, bahwa untuk bisa sebuah daerah jadi tuan rumah tidaklah bisa dilakukan hanya dengan sekali mendaftar saja. Tapi bahkan bisa sampai tiga kali mendaftar. Justru yang dilakukan pengurus KONI Sumbar saat ini adalah sejarah, karena baru kali inilah Sumbar mendaftar ikut bidding PON.

Nah, dengan semua yang telah diceritakan di atas, saya pikir siapa pun akan bisa mengetahui, apa yang menjadi latar belakang kenapa dan mengapa para penghancur olahraga Sumbar itu sok menulis seakan mereka peduli benar dengan nasib olahraga Sumbar. Lalu masih bisakah kita percaya dengan apa yang ditulis mereka-mereka itu saat ini? Haruskah saya kupas lebih jelas lagi, siapa orang-orangnya? Rasanya tidak perlu lah. Saya juga tidak mau mempermalukan mereka lebih jauh lagi. Karena paling tidak mereka juga adalah teman-teman saya. Cuma saja kebetulan saat ini mereka hanya terpicu dendam karena ditolak jadi pengurus, sehingga akal sehat mereka pun tidak digunakan untuk menulis yang benar dan sebenar-benarnya. Itu saja. (Fazril Ale - Waketum II KONI Sumbar)

About N. NOFI SASTERA

konisumbar.or.id merupakan media informasi yang menyajikan berbagai macam informasi mengenai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sumatera Barat
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply